Birul Walidain

Image

 

 

  1. 1.    Definisi

Al Birr bermakna kebaikan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Al Birr adalah baiknya akhlaq.” (HR. Muslim)

Birrul Walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, menjauhi apa-apa yang tidak mereka sukai, serta mentaati mereka selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

  1. 2.    Daliel Alqur’an dan Hadist

Al-Qur’an:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uf (ah)” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al Israa’: 23 – 24)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam (selambat-lambatnya) dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Hadist:

Dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya: “Kemudian apa lagi?” Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”  (HR. Tirmidzi)

  1. 3.    Keutamaan

m Termasuk Amalan Yang Paling Mulia

Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sholat tepat pada waktunya”, Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Berjihad di jalan Allah”. ( HR. Bukhari dan Muslim)

m Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al Ahqaf 15-16)

            Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apakah Ibumu masih hidup?”, berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Kalau bibimu masih ada?”, dia berkata : “Ya” . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Berbuat baiklah padanya. (HR. Trimidzi)

m Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga

Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (HR. Imam Muslim)

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia : “Ya”. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (HR. Nassai)

 m Merupakan Sebab keridhoan Allah

 Sebagaiman hadits yang terdahulu “Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua”.

m Merupakan Sebab Bertambahnya Umur

 Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.(HR. Anas bin Malik)

 m Merupakan Sebab Barokahnya Rizki

mMerupakan Salah Satu Bentuk Peribadatan Kepada Allah

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisaa’: 36)

 Sebagai Salah Satu Bentuk Bersyukur Kepada Allah

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam (selambat-lambatnya) dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

  1. 4.    Berbakti pada Orang Tua Saat Masih Hidup

Berbakti pada orang tua saat masih hidup bisa dilakukan dengan berbuat baik dengan ucapan, maka bisa dilakukan dengan menjaga tutur kata yang baik dan tidak menyakitkan serta dengan berlemah-lembut ketika berbicara kepadanya. Sedangkan berbuat baik dengan perbuatan, bisa dilakukan dengan membantu menyiapkan keperluan-keperluannya atau melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya untuk meringankan bebannya serta memenuhi perintah-perintah-Nya, selama bukan dalam bentuk berbuat maksiat kepada Allah  Sedangkan berbuat baik dengan harta, bisa dilakukan dengan menginfakkan sebagian dari hartanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

  1. 5.    Berbakti pada Orang Tua yang Sudah Wafat

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz ibnu Abdullah ibnu Bazt, salah seorang ulama terkemuka di Saudi Arabia mengatakan: “Disyariatkan berdoa kepada Allah untuk yang telah meninggal dunia, begitu pula bersedekah atas namanya dengan berbuat baik berupa memberikan bantuan kepada fakir miskin, (yaitu) seseorang mendekatkan diri kepada Allah  dengan perbuatan tersebut dan kemudian berdoa kepada Allah  agar menjadikan pahala dari sedekah tersebut untuk ayah dan ibunya atau selain keduanya, baik yang telah meninggal dunia maupun yang masih hidup. Hal ini karena Nabi bersabda (yang artinya):

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa untuknya.” Disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw., bahwa ada seseorang bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan beliau belum sempat berwasiat namun aku yakin kalau beliau sempat berbicara tentu beliau ingin bersedekah, apakah beliau (ibuku) akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Rasulullah menjawab, “Benar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Begitu pula (akan bermanfaat untuk orang yang telah meninggal dunia) amalan ibadah haji atas nama si mayit, demikian pula ibadah umrah, serta membayarkan utang-utangnya. Semua itu akan bermanfaat untuk yang meninggal sebagaimana telah datang dalil-dalil yang syar’i menunjukkan hal tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat 4/342)

Termasuk amalan berbakti kepada orangtua yang bisa dilakukan sepeninggal mereka adalah menghubungi kerabat dan teman-teman mereka. Bahkan juga dengan menghubungi atau berbuat baik kepada keluarga dari teman-teman orangtua kita.

  1. 6.      Contoh (kisah) dari Rasulullah atau Para Sahabat.

Sahabat Abdullah ibnu ‘Umar ibn Al-Khaththab, bahwa beliau berjalan menuju kota Makkah dan mengendarai keledai yang ditungganginya untuk beristirahat di saat lelah. Ketika beliau sudah bosan duduk di atas kendaraannya, lewatlah di depan beliau seorang badui dan berkatalah beliau (kepada badui tersebut), “Apakah engkau Fulan ibnu Fulan?” Orang badui tersebut menjawab, “Benar.” Maka beliau (sahabat Abdullah ibn ‘Umar) memberikan keledainya kepada badui tersebut seraya mengatakan, “Naikilah kendaraan ini.” Kemudian beliau juga memberikan kain sorbannya yang sedang dipakai seraya mengatakan, “Pakailah kain ini untuk diikatkan sebagai penutup kepalamu.” Maka berkatalah orang-orang kepada sahabat Abdullah ibn ‘Umar , “Mudah-mudahan Allah mengampunimu. Engkau berikan kepadanya keledai yang engkau tunggangi di saat ingin beristirahat dari kelelahan dan engkau berikan imamah yang sedang engkau ikatkan di kepalamu.” Maka ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan, “Sesungguhnya dia adalah teman (orangtua saya) ‘Umar ibn Al-Khaththab’, dan sungguh saya mendengar Rasulullah  bersabda:

“Sesungguhnya termasuk dari perbuatan paling baik dalam berbakti kepada orangtua adalah seseorang berbuat baik kepada keluarga orang yang dicintai (teman) ayahnya.” (HR. Muslim)

Kisah Al-Qamah

“Tidakkah aku telah mengatakan kepadamu,” Tanya nabi, “tentang dosa-dosa besar? Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua”.

Ada seorang pemuda pada zaman Rasulullah, Alqamah namanya. Dia taat beribadah, mengerjakan shalat, berpuasa dan mengeluarkan sedekah. Suatu waktu dia sakit parah, dan istrinya dalam keadaan yang sangat berduka datang keapda Rasulullah dan berkata, “Suamiku sakit parah dan aku ingin mengatakan kepada engkau tentang keadaanya, Wahai Nabi Allah”.

Radulullah menyuruh tiga sahabat beliau yaitu Bilal, Syu’aib dan ‘Amar, dan memerintahkan kepada mereka, “Pergilah ke Alqamah dan suruh dia mengucapkan syahadat”.

Mereka pergi dan menemukan Alqamah dalam keadaan parah dan mencoba dia mengucapkan syahadat, Laa ilahaa illa Allah, namun kata-kata itu tidak keluar dari lidahnya. Ketiga sahabat melaporkan kepada Raulullah yang kemudian bertanya:

“Adakah orang tuanya yang masih hidup?” dan diceritakan bahwa ibunya masih ada dan dia sangat tua sekali. Nabi mengutus seseorang untuk menyuruh ibunya itu untuk datang kepada beliau jika mampu, namun jika tidak mampu , maka nabi sendiri yang akan datang kepada ibunya. Jawabannya yang cepat menunjukkan betapa ibunya sangat menghormati Rasulullah.

“Sepanjang hidupku, aku adalah satu-satunya yang harus mendatangi dia.” Perrahan-lahan, berjalan dengan tongkatnya, dia mendekat kepada Rasulullah. Dia memberi salam dan nabi membalas salamnya, dan berkata padanya, “Katakanlah yang sesungguhnya..apa apa dengan anakmu Alqamah?”

“Rasulullah,”dia berkata, “Anakkku mengerjakan shalat, puasa, dan banyak memberi sedekah.”

“Dan ada apa antara engkau dan dia?”

“Rasulullah, aku marah kepadanya.”

“Mengapa?”

“Ya, Rasulullah, dia lebih menyukai istrinya dari pada aku dan durhaka kepadaku”.

Kemudian Nabi berkata, “Kemarahan ibu Alqamah tentu saja telah menghalangi lidah Alqamah untuk mengucapkan syahadat”. Beliau kemudian menyuruh Bilal untuk menyiapkan setumpuk kayu bakar.

“Rasulullah, apa yang akan engkau lakukan?”ibu Alqamah bertanya.

“Aku akan membakar dia di depanmu”.

“Wahai Rasulullah! Anakku! Hatiku tidak akan tahan jika dia harus dibakar di depan mataku”.

“Ibu Alqamah, hukuman Allah lebih berat dan lama. Jika engkau benar-benar menginginkan Allah memaafkan dia, maka perlihatkanlah bahwa engkau memaafkan dia. Demi Allah yang jiwaku ada didalamnya, Alqamah tidak akan mendapat apa dari shalatnya, puasanya dan sedekahnya selama engkau tetap marah kepadanya”.

“Ya Rasulullah ! aku menyeru kepada Allah untuk bersaksi di hadapan para malaikat dan orang-orang muslim yang ada di sini denganku, bahwa aku telah memaafkan anakku Alqamah”.

Setelah itu lidah Alqamah  tidak kaku ladi dan dia mengulang-ulang syahadat-Aku bersaksi bahwa yidak ada Tuhan melainkan allah dan aku bersaksi Muhammad itu adalh utusan Allah. Hari itu juga Alqamah meninggal. Nabi sendiri mempimpin shlat jenazah dan bersama-sama oang- orang muslim lainnya hanya memohonkan ampunan terhadap dosa Alqamah yang membuat ibunya marah dan memohon ganjaran untuk tetap membuat ibunya senantiasa bahagia.

“Islam Cara Hidup Alamiah”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s